7 Adab Makan dan Minum Sesuai Sunnah Rasulullah agar Jadi Berkah

Setiap hari manusia tidak pernah lepas dari aktivitas makan dan minum. Namun sering kali, kegiatan ini dilakukan secara otomatis, tanpa kesadaran ruhani sedikit pun. Kita makan sekadar untuk mengisi perut, menghilangkan lapar, lalu kembali beraktivitas. Padahal dalam Islam, makan dan minum dapat bernilai ibadah jika dilakukan dengan adab yang benar dan niat yang lurus.

Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan cara beribadah di masjid, tetapi juga menuntun umatnya dalam perkara-perkara sederhana, termasuk bagaimana menyantap makanan. Adab makan yang beliau contohkan bukan hanya mendidik akhlak, tetapi juga terbukti membawa manfaat besar bagi kesehatan jasmani. Di website Al-Ikhlas, kita diajak kembali menelusuri adab-adab makan dan minum yang tampak sederhana, namun sarat keberkahan.

1. Mengawali dengan Bismillah dan Menggunakan Tangan Kanan

Segala sesuatu yang baik dalam Islam selalu dimulai dengan menyebut nama Allah. Membaca “Bismillah” sebelum makan adalah bentuk pengakuan bahwa rezeki tersebut berasal dari-Nya. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa dengan menyebut nama Allah, setan tidak akan ikut serta menikmati makanan kita.

Apabila seseorang lupa membaca Bismillah di awal, Islam tetap memberikan jalan keluar. Cukup membaca “Bismillahi awwaluhu wa aakhiruhu” ketika ingat, sebagai penutup yang menyempurnakan adab.

Selain itu, Rasulullah SAW menekankan pentingnya menggunakan tangan kanan saat makan dan minum. Beliau menjelaskan bahwa setan makan dan minum dengan tangan kiri. Menggunakan tangan kanan bukan sekadar kebiasaan, melainkan simbol ketaatan, kesopanan, dan kemuliaan dalam Islam.

2. Makan dengan Duduk Tenang dan Tidak Bersandar

Islam sangat memperhatikan adab posisi tubuh saat makan. Rasulullah SAW mencontohkan makan dalam keadaan duduk, bukan berdiri apalagi berjalan, kecuali dalam kondisi tertentu yang darurat. Duduk dengan tenang mencerminkan adab dan rasa hormat terhadap nikmat yang sedang kita terima.

Beliau juga bersabda bahwa dirinya tidak makan dalam keadaan bersandar. Posisi bersandar membuat seseorang cenderung makan berlebihan dan kurang terkontrol. Secara medis, makan sambil duduk tegak membantu proses pencernaan berjalan lebih baik dan mengurangi risiko gangguan lambung.

Dengan duduk tenang, seseorang juga lebih mudah mengendalikan nafsu makan dan lebih sadar terhadap apa yang dikonsumsi.

3. Tidak Mencela Makanan Apa Pun

Salah satu adab penting yang sering dilupakan adalah larangan mencela makanan. Rasulullah SAW tidak pernah mengkritik makanan, baik dari segi rasa, bentuk, maupun penyajiannya. Jika beliau menyukainya, beliau makan. Jika tidak menyukainya, beliau cukup meninggalkannya tanpa komentar negatif.

Adab ini mengajarkan rasa syukur dan empati. Mencela makanan sama saja dengan meremehkan nikmat Allah dan menyakiti hati orang yang telah bersusah payah menyiapkannya. Jika makanan terasa kurang sesuai selera, cukup diam dan tetap mensyukuri bahwa Allah masih memberi rezeki.

Sikap ini melatih hati untuk menerima dan menghargai, bukan menuntut dan mengeluh.

4. Berhenti Sebelum Kenyang: Prinsip Sepertiga Perut

Inilah salah satu ajaran Rasulullah SAW yang paling relevan dengan gaya hidup modern. Beliau bersabda bahwa tidak ada wadah yang lebih buruk diisi secara berlebihan selain perut. Karena itu, beliau mengajarkan pembagian perut menjadi tiga bagian: sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk bernapas.

Makan hingga terlalu kenyang membuat tubuh terasa berat, malas beribadah, dan mudah mengantuk. Bahkan banyak penyakit berawal dari kebiasaan makan berlebihan. Dengan berhenti sebelum kenyang, tubuh terasa lebih ringan, pikiran lebih jernih, dan ibadah pun terasa lebih mudah dilakukan.

Prinsip ini bukan hanya sunnah, tetapi juga selaras dengan ilmu kesehatan modern.

5. Adab Minum: Tidak Sekali Teguk dan Tidak Meniup

Rasulullah SAW mencontohkan adab minum dengan bernapas di luar gelas sebanyak tiga kali. Artinya, minum dilakukan dengan beberapa tegukan, bukan satu tarikan napas panjang. Cara ini membuat minum lebih nyaman, tidak tersedak, dan membantu tubuh menyerap cairan secara bertahap.

Beliau juga melarang meniup minuman yang masih panas. Selain tidak sopan, secara medis meniup minuman dapat memindahkan bakteri dari mulut ke dalam air. Islam mengajarkan kesabaran: biarkan minuman mendingin dengan sendirinya sebelum diminum.

Adab minum ini tampak sepele, namun mencerminkan kesempurnaan ajaran Islam yang memperhatikan kebersihan dan kesehatan.

6. Menutup dengan Alhamdulillah

Setelah selesai makan dan minum, Rasulullah SAW selalu mengajarkan untuk memuji Allah dengan mengucapkan “Alhamdulillah.” Ucapan ini adalah pengakuan bahwa nikmat yang kita rasakan bukan semata hasil usaha, melainkan karunia Allah semata.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa Allah sangat ridha kepada hamba-Nya yang makan atau minum lalu memuji-Nya. Bahkan pujian sederhana setelah satu suapan atau satu tegukan pun bernilai besar di sisi Allah.

Ucapan Alhamdulillah menutup aktivitas makan dengan rasa syukur dan kerendahan hati.

Penutup

Adab makan dan minum dalam Islam mengajarkan bahwa ibadah tidak hanya terjadi di atas sajadah. Setiap aktivitas harian bisa bernilai pahala jika dilakukan sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Dari membaca Bismillah, mengatur porsi, hingga menutup dengan Alhamdulillah, semuanya adalah bentuk ibadah yang mudah namun sering terabaikan.

Mari kita mulai menerapkannya dari hidangan berikutnya. Dengan adab yang benar, makanan bukan hanya mengenyangkan tubuh, tetapi juga menenangkan hati dan mendatangkan keberkahan hidup.

Keywords: adab makan sesuai sunnah, cara makan Rasulullah, doa sebelum makan, aturan sepertiga lambung, adab minum dalam Islam.

Leave a Comment